Bagaimana Caranya Move On?


 

Berakhirnya hubungan dengan pasangan yang Kita cintai kerap kali membuat hati dan pikiran Kita terganggu. Katanya sih Makan gak enak, tidur gak nyenyak, hehe. Dan saat menghadapi situasi seperti ini, biasanya orang terdekat Kita akan bilang “Sudahlah, Ikhlaskan saja!!” atau “Move On, dong!! Dia bukan yang terbaik”. Meski Kau tau berat menjalankan sarannya, Aku sarankan ucapkan terima kasih terlebih dahulu. Setidaknya Dia sudah berempati kepada hatimu yang patah.

Move On! Kata itu terdengar sangat sederhana. Tapi percayalah, bahwa banyak orang di dunia ini yang hanya bisa mengejanya dan berupaya keras mewujudkannya. Atau Kamu juga salah satunya?

Arti katanya saja adalah berpaling dari Dia yang Kita sayangi ke orang atau hal lain yang membuat Kita lebih nyaman dan tenang menjalani hidup.

Tapi, apakah berpaling itu mudah?

Melupakan seseorang yang sangat atau pernah bermakna dalam hidup Kita tentu saja tidak mudah. Setiap orang yang hadir dalam hidup Kita tentu punya ruang tersendiri di hati Kita. Termasuk, Dia.

Aku tidak pernah berusaha melupakan siapa pun, termasuk Dia yang pernah –atau masih- Aku cintai sepenuh hati. Dan percayalah, tidak ada seorang pun yang ingin dilupakan. Tapi rasa sakit setelah berpisah itu mengganggu aktivitas sehari-hari dan menjadikan hidup berat.

Jika Kuku panjang yang dipotong adalah kukunya, bukan jarinya. Begitu pula dengan putusnya hubungan, yang dipotong adalah perasaannya, bukan hubungan silaturahminya, atau bahkan harus melupakannya.

Memotong perasaan yang pernah ada untuk dia, gimana bisa? Makan, tidur, baca, kerja, Mandi aja yang diingat masih dia.

Bahwasannya Move On itu bukan perkara melupakan atau memotong perasaan. Move on itu adalah perkara ketika Kamu menyadari bahwa Kamu tidak berhak tersakiti lebih dalam, bahwa Kamu masih punya dunia dan mimpi yang harus Kamu kejar, bahwa hidupmu bukan hanya tentang dia, bahwa Kamu berhak lebih bahagia, dan itu bukan bersamanya. Tentang perasaanmu ke dia yang masih ada, biarlah, waktu akan menggerusnya sendiri.

Kamu hanya perlu bangkit dari keterpurukanmu yang sudah disakitinya, selebihnya, pasrahkan kepada Yang Di Atas. Atau, Kamu bisa saja berpura-pura untuk tidak mencintainya, sampai Kamu lupa bahwa Kamu sedang berpura-pura.

Selama perasaan itu tidak mengganggu kehidupanmu, mimpimu dan kebahagianmu. Biarlah. Percayalah, Tuhan akan mengirimkan dia yang terbaik nanti.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s